Searching...
Wednesday, February 18, 2015

Review: Kapan Kawin? (2015)


Pikir-pikir, bikin film komedi romantis kayak ‘Kapan Kawin’ gini sebenernya susah loh. Susahnya karena daya tarik filmnya cuma di perpaduan kedua pemeran utamanya, harus bener-bener serasi. Yang gue maksud ‘serasi’ di sini adalah:





  1. Secara fisik harus cocok, seimbang. Kalo enggak, misalnya ceweknya cantik banget sementara cowoknya kayak tukang lele, maka jadinya cuma komedi doang tanpa romantis. Atau malah tragedi, tergantung pendekatan sutradaranya.
  2. Secara emosional harus nampak ada ekspresi gemes-gemes doyan, tarik ulur antara mau dan enggak di antara keduanya yang membuat penonton geregetan.

Syarat ini nggak perlu ada di film horror, misalnya. Nggak ada penonton film horror yang kecewa gara-gara, “…pas pocongnya lagi makan orang bareng kuntilanak, kayak kurang mesra yah…” Atau nggak ada penggemar film action yang komplen, “…Stallone sama Schwarzenegger kelihatannya kurang betulan saling menyayangi…” Nggak ada!


Di film ini, tugas berat tersebut diserahkan kepada Adinia Wirasti dan Reza Rahadian. Ceritanya, Adinia yang berperan sebagai Dinda adalah seorang wanita karir sukses yang sampe umur 33 belum juga ada tanda-tanda akan kawin. Seperti biasa orangtuanya (Ivanka Suwandi dan Adi Kurdi) yang tinggal di Jogja meneror dengan segala cara agar Dinda cepet kawin. Mereka membandingkan Dinda dengan kakaknya, Nana (Febby Febiola) yang udah kawin dan berbahagia bersama Jerry (Erwin Sutodihardjo). Karena kepepet. Dinda minta tolong Eva (Ellis Marsono), sahabatnya, untuk mencarikan seorang aktor yang bisa dipamerkan kepada orangtua Dinda, dalam peran sebagai calon suami. Eva lantas mengenalkan Dinda dengan Satrio (Reza Rahadian), seorang aktor jalanan. Maka berangkatlah Dinda ke Jogja dalam rangka mempersiapkan ulang tahun pernikahan orangtua Dinda sekaligus mengenalkan ‘calon suami’  imajinernya, Satrio.

Udah jadi pakemnya film komedi romantis bahwa kedua tokohnya harus punya karakter yang bertolak belakang. Maka digambarkanlah Dinda yang sebagai pegawai hotel punya tuntutan pekerjaan harus menyenangkan orang lain, dan sebagai anak harus menyenangkan orangtua. Sifatnya serba nurut dan nggak banyak cingcong. Sedangkan Satrio digambarkan sebagai aktor udik yang sok tau, merasa diri keren, anti kompromi dan kemapanan, memandang rendah aktor komersil, tapi ngomong bahasa Inggris aja belepotan. Interaksi keduanya bikin gue ngakak karena pas banget. Gue nggak terlalu banyak nonton filmnya Adinia Wirasti yang lain, jadi nggak punya pembanding, tapi menurut gue di film ini dia berhasil menghidupkan Dinda. Dan yang menurut gue perlu diberi penghargaan khusus dalam menunjang keberhasilan peran Adinia adalah sang desainer kostumnya. Perhatiin seragamnya sebagai pegawai hotel berikut ini:




Gue nggak pernah nginep di Hotel Horison yang jadi setting film ini, jadi gue nggak tau keadaan sebenernya gimana, tapi kayaknya nggak ada deh hotel bisnis yang seragam pegawainya ketek bolong ini. Tapi bukan berarti gue komplen ya, karena dengan model seragam kayak gitulah terpampang kualitas lengan Adinia yang “kalau saya sih yes, ya…” Dan bener aja, ternyata Adinia rajin berlatih yoga dan TRX (ini apa sih). Dear cewek-cewek, kalo mau punya lengan kayak gini, Zumba aja nggak cukup. Weight training is the key!

Sedangkan Reza Rahadian, lagi-lagi berhasil menyulap dirinya jadi orang yang beda dengan peran-peran sebelumnya. Kayaknya kalo suatu hari ada film yang menyatukan Reza Rahadian dan Lukman Sardi seru juga nih. Eh, atau udah pernah ada?

Skenario yang ditulis oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny menurut gue cukup rapi menghantarkan perkembangan para tokohnya. Cocok lah dengan teori yang dibahasnya di workshop yang ini. Cuma yang terasa agak sedikit ganjel adalah gradasi krisisnya kurang rata. Di bagian depan sampe tengah terasa terlalu lancar, mulus dan lucu-lucu aja, tiba-tiba tingkat krisisnya meningkat drastis menjelang akhir film. Mungkin akan lebih seru kalo elemen-elemen yang bisa bikin penonton geregetan dicicil sejak lebih awal.

Catatan lainnya, (yang lebih terkait dengan kesotoyan gue sebagai psikolog doang sih), sebenernya akan lebih pas kalo Dinda jadi anak sulung dan Nana sebagai anak kedua. Karakter penurut, berusaha menyenangkan orang tua, itu lebih cocok dimiliki anak sulung. Selain itu, tingkat kepepetnya saat dikejar kawin juga akan lebih kuat kalo dikasih latar belakang pernah dilangkahin adiknya kawin duluan. Itu kalo menurut gue loh.

Sutradara film ini adalah Ody C Harahap. Tenyata dia adalah sutradara film Bangsal 13, film pertama yang gue tonton bersama Ida. Nampaknya Bang Ody lebih cocok pegang film komedi romantis aja deh ketimbang horror ya.

Kesimpulannya, ini film yang sangat menghibur, gue ngakak dari awal sampe akhir. Buat kalian penggemar film komedi romantis yang selama ini hanya sudi nonton film yang ‘luar punya’, nonton deh film ini. Gue jamin lu akan mengakui, film Indonesia udah punya kualitas yang siap diadu dengan film Hollywood!



5 komentar:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nunggu download aja deh.......sulit ngajak keluarga nonton film romcom spt ini.....meski suka romcom banget....tq

      Delete
    2. Mending nunggu DVD orinya keluar aja ya, paling 3 bulan lagi ada.

      Delete
  2. loh... udah nulis komen kok ngilang sih??

    yaudah diulang nih..

    selamat untuk blog barunya.. :)
    mau nanya tapi ga nyambung ama ripiuw pelemnya.. nyambungnya ama kesotoyan sebagai psikolog.. jadi kalo anak sulung cenderung penurut dan pengen nyenengin ortu, kalo anak kedua gimana karakternya?

    thanks yaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung anak kedua dari berapa bersaudara. Kalau dari banyak (misalnya 2 dari 3 ataun2ndari 4) sifatnya cenderung pemberontak dan anti kemapanan. Kalo 2 dari 2 seperti dalam film ini, ada unsur manja dan sulit berempati. KalaKalo inginnbaca2 lebih lanjut soal teorinya, coba googling Alfred Adler. Dia yang pertama kali berteori tentamg pengaruh urutan kelahiran terhadap sifat.

      Delete

 
Back to top!