Searching...
Friday, February 20, 2015

Review: Shaun The Sheep Movie (2015)


Saat teknologi animasi komputer udah secanggih sekarang ini, masih ada orang yang mau repot-repot bikin film dengan teknik stop-motion adalah mengagumkan. Bayangin: pertama-tama harus bikin boneka para tokohnya. Udah gitu harus bikin banyak muka untuk masing-masing boneka, karena tiap kali tokohnya berubah ekspresi, mukanya juga harus diganti. Abis itu harus bikin set-nya: setiap lembar daun, rumput, batu, yang muncul di film harus dibikin satu per satu. Setelah semuanya jadi, baru bisa shooting. Shooting-nya juga bikin pegel: ilusi gerakan para tokoh dibuat dari rangkaian foto yang 'dijahit' jadi film. Potret, gerakin bonekanya sedikit, potret lagi, gerakin sedikit lagi, potret lagi, dan seterusnya. Setiap detiknya butuh 25 foto, maka untuk bikin 1 menit adegan butuh 25 x 60 foto = 1.500 foto. Film ini durasinya 85 menit, maka butuh 85 x 1.500 foto = 127.500 foto! Mau lihat proses pembuatannya? Silakan klik link yutub ini.

Tapi mungkin itulah uniknya dunia film, ya. Mungkin para pembuat film ini merasakan sejenis kepuasan saat menyiksa diri dengan proses pembuatan yang segini njelimetnya. Kalau kalian lantas mikir, "Ah, tapi Shaun The Sheep kan film seri, versi movie bisa pake setting yang pernah dipake untuk seri. Nggak perlu bikin baru" -- maka para pembuat film ini menaikkan tantangan dengan 

menaruh Shaun CS di setting yang nggak biasanya, yaitu di kota!

Film dibuka dengan menggambarkan kebosanan Shaun yang melalui hari demi hari dengan rutinitas yang sama: bangun pagi, digembala ke padang rumput, pulang lagi. Begitu terus, hari demi hari, sampe pada suatu hari dia terinspirasi untuk berlibur saat melihat sebuah reklame. Shaun lalu mengatur rencana menyingkirkan The Farmer untuk sementara, supaya mereka bisa punya waktu bersantai.

Awalnya rencana mereka berhasil, tapi seperti biasa ada aja kekacauan yang terjadi sehingga tau-tau The Farmer terbawa dalam caravan ke kota. Repotnya lagi, di sana The Farmer mengalami amnesia, identitas dirinya aja nggak inget, apalagi inget jalan pulang. Film ini lantas menceritakan petualangan Shaun CS berusaha menemukan dan membawa pulang The Farmer, dengan berbagai tantangan di sana-sini.


***

Sebagai film tanpa dialog, film ini bener-bener memperhatikan berbagai elemen detail untuk mempertahankan minat penonton. Bukan cuma plot cerita yang diandalkan untuk memancing tawa, tapi juga ekspresi, kostum, dan aksesori para hewan. Misalnya, saat para domba menyamar jadi manusia, domba terkecil diikat di punggung mirip ransel, persis ransel merchandise Shaun The Sheep yang banyak dijual di Mal Ambas. Atau fakta bahwa ada 1 domba yang setia memakai 3 buah rol rambut di kepala, padahal kalo dipikir, domba kurang keriting gimana sih kok sampe merasa perlu pake rol rambut?!

Film ini ideal buat memperkenalkan bioskop kepada para balita, dengan cerita yang juga bisa menghibur para orangtuanya.

1 komentar:

 
Back to top!