Searching...
Friday, March 16, 2018

Review: Designated Survivor (Serial TV 2016)


Semua berawal gara-gara Netflix.

Di suatu hari yang selo, nyalain Netflix tanpa tau mau nonton apa, tiba-tiba trailer film ini muncul.
Ida langsung tertarik. "Nonton ini aja, suami. Istri seneng nonton film yang gini-gini," katanya, tanpa keterangan yang lebih operasional mengenai batasan film yang masuk dalam kategori 'gini-gini'.

Ternyata film ini, yang setelah ditonton 20 menit baru gue sadari adalah film seri, adalah sebuah film yang sangat 'gini-gini'. Dan saat kesadaran di menit ke20 itu datang, segalanya sudah terlambat.

Film dibuka dengan beberapa kalimat pendek yang menjelaskan arti "designated survivor", yaitu saat presiden Amerika Serikat beserta wakil, menteri, dan anggota kongresnya rapat umum, akan ada 1 anggota kabinet yang ditunjuk menjadi 'designated survivor', jadi orang yang dirancang untuk selamat; diumpetin di suatu tempat rahasia. Tujuannya adalah kalo presiden dan wakilnya celaka, maka si designated survivor ini yang akan menjabat sebagai presiden.

Dalam film ini, sang designated survivor adalah Tom Kirkman (Kiefer Sutherland), Secretary of House and Urban Development atau kalo di Indonesia mungkin Menteri Perumahan Rakyat kali ya. Dia menganggap tugasnya sebagai designated survivor sebagai formalitas belaka, di tempat persembunyian asik ngemil kacang dan minum bir sambil nonton siaran langsung presiden rapat. Tiba-tiba ada gangguan siaran langsung, dan masuklah petugas secret service yang langsung menyeret Tom beserta istrinya ke lokasi aman karena gedung Capitol tempat presiden rapat dibom. Jadi presiden, wakil, seluruh menteri, plus anggota kongresnya mati semua.

Yang bikin film ini makin seru adalah latar belakang Tom Kirkman yang digambarkan sebagai akademisi, jauh dari dunia politik. Dia adalah arsitek yang ahli di bidang tata kota, tapi buat sebagian orang dianggap nggak lebih dari 'glorified real estate agent'. Dengan kata lain, dia dianggap menteri magang, kroco, tapi ujug-ujug kondisi memaksa dia menduduki jabatan paling berkuasa di dunia.

Walaupun secara kasat mata 90% adegan film ini nggak lebih dari orang ngobrol berhadapan, buka tutup pintu, Tom lepas pasang kaca mata, oper-operan berkas, jalan kaki berendengan, dan saling tatap-tatapan dalam pengambilan gambar super close-up, tapi ceritanya bener-bener seru. Penulis naskahnya memasukkan masalah demi masalah secara berlapis: mulai dari penyelidikan pelaku pengeboman yang berliku, pihak militer yang nggak percaya ke sang presiden magang, negara lawan yang memanfaatkan kekacauan Amerika sebagai peluang bikin rusuh, sampe ke anak-anak sang presiden yang susah menerima perubahan drastis kehidupan mereka.

Untungnya sih setting film ini di Amerika. Coba kalo kejadiannya di Indonesia; seluruh pemerintahan lenyap dan ada 1 menteri yang ditunjuk menggantikan, maka kemungkinan besar masalah yang akan merundungnya adalah:

  • dituduh kafir
  • dicurigai antek asing/aseng
  • merk tas istrinya dibahas
  • dikasih kartu kuning
  • dijadiin topik debat di acara talkshow
  • rumahnya digeruduk massa yang kontra
  • terjadi bentrok dengan massa yang pro
...belum sampe episode 3 udah tamat riwayatnya. 


Untungnya, atau gawatnya, Designated Survivor ini sekarang udah masuk season 2. Kenapa gawat, karena nggak seperti umumnya serial Netflix yang dirilis 1 season sekaligus, episode film ini dirilis per minggu karena juga ditayangkan di TV biasa. Akibatnya, nontonnya nggak bisa borongan, harus sabar nunggu episode selanjutnya muncul. Gue sendiri baru selesai di season 1, dan saat posting ini ditulis season 2-nya baru sampe episode 10, tapi gue yakin dalam 2 hari weekend mendatang 10 episode itu akan beres. Artinya, mulai Senin depan harus geregetan nungguin episode berikutnya rilis.



Selain dapet rating bagus di IMDB dan Rotten Tomatoes, rating film ini juga cakep. Setiap episodenya rata-rata ditonton 5,8 juta orang, sebuah angka yang nggak jelek di tengah persaingan serial TV yang seketat sekarang. Kalo menurut gue, selain karena ceritanya seru, mungkin orang suka nonton serial ini karena sosok Presiden Tom Kirkman yang... yah, gimana ya bilangnya... pokoknya sangat jauh dari karakter presiden Amerika yang sekarang menjabat lah. Presiden Kirkman ini digambarkan sangat manusiawi, down to earth, selalu berusaha jujur (sampe bolak-balik dicegah oleh para penasehatnya karena dianggap 'terlalu' jujur), dan menjalankan tugasnya dengan sangat tulus. Mungkin sosoknya bisa jadi semacam 'anestesi' dari ulah presiden yang sebenernya. Mungkin, lho!

O iya, serial ini juga diperindah dengan kehadiran Maggie Q sebagai agen FBI Hannah Wells.

Borgol aku, mbak... borgol aku...

Kehadirannya sangat penting mengingat film ini bercerita tentang kehidupan politik tingkat tinggi, maka wajah-wajah yang berseliweran di layar adalah wajah-wajah bapak-bapak politikus tua. Tentunya sangat garing dan membayakan kesehatan mata, bukan?

Buat kalian para katak dalam tempurung yang belum kenal siapa Maggie Q, dia awalnya main di film-film produksi Hong Kong, tapi kemudian namanya melejit sejak main di  Mission Impossible III dan Live Free or Die Hard. Perannya kalo nggak jadi penjahat ya jadi polisi, karena pembawaannya pas jadi cewek jagoan.

Akhir kata, buat kalian penggemar film 'gini-gini', tonton deh Designated Survivor. Seru!

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to top!