Searching...
Sunday, January 17, 2016

Review: 5th Wave (2016)




Coba deh tonton trailer film ini:


Action? Check.
Alien? Check.
Chloë Grace Moretz? Check.
Jelas, gue langsung memutuskan nonton.

Ekspektasi gue adalah film sejenis Battle Los Angeles (2011) atau War of the Worlds (2005) atau Independence Day (1996), tentang bumi yang diserang alien jahat dan berisi adegan-adegan perang seru.

Begitu filmnya mulai, adegan dibuka dengan dik Chloë lari-larian di hutan sambil nenteng senjata. Dia nemu kota yang nampak kosong berantakan, kayak abis jadi lokasi perang. Aih, dystopian sekali. Oom senang!

Latar belakang invasi alien diceritain lewat narasi tokoh Cassie (yaitu diperankan oleh dik Chloë), seorang anak SMA yang tadinya hidup bahagia bersama kedua orang tua dan seorang adik laki-laki. Lalu datanglah alien.


WARNING: SPOILERS AHEAD.






Serangan pertama para alien menggunakan senjata elektro magnet. Akibatnya semua mesin dan peralatan elektronik di bumi mati total. Itu adalah 1st wave. Lalu 2nd wave-nya adalah banjir bandang, sehingga sejumlah kota besar terendam. Serangan 3rd wave dalam bentuk wabah penyakit yang mematikan banyak orang. Sampe sini filmnya masih keren. Tegang, seru, action. Sedikit terganggu karena rambut dik Chloë sama sekali tidak nampak mengalami penurunan kualitas sekalipun bumi lagi ancur lebur dan pastinya pabrik sampo udah lama berhenti produksi (karena mesinnya kena senjata elektro magnet, bukan?)

walau kurang masuk akal namun dimaafkan

Lalu terjadilah 4th wave, yaitu konon aliennya udah mulai turun ke bumi dari pesawatnya dan membaur dengan penduduk. Di sini mulai menganga sejumlah lubang plot dan pelanggaran atas premis yang dibuat oleh film ini sendiri, misalnya:


  • tiba-tiba muncul serombongan tentara naik kendaraan perang ke kamp pengungsi. Lah, katanya mesin-mesin pada mati kena senjata elektro magnet? 
  • tentara-tentara yang dateng ke kamp pengungsi bilang mereka udah berhasil menciptakan scanner untuk membedakan alien dari manusia. Oleh karena itu mereka mengangkuti anak-anak, termasuk Sam, adiknya Cassie, ke sebuah fasilitas khusus karena deteksi alat itu lebih akurat pada anak-anak. Gimana, curiga dengan latar belakang para tentara itu? Kalo enggak mah kebangetan. 
  • di fasilitas khusus itu, anak-anak malah dilatih untuk berperang melawan alien. Jadi bocah-bocah usia SD digabung sama anak-anak ABG, dilatih perang-perangan. Makin absurd. 
  • sementara itu Cassie yang kepisah dari adiknya berkelana di tengah alam liar dan akhirnya ketemu dengan... cowok ganteng yang baik hati dan jago kelahi. Lalu mereka pacaran dengan dialog-dialog yang drama. Di titik ini gue mulai (semakin) menyesal. 
  • bak film Rano Karno era 70an, secara kebetulan Sam dilatih satu tim dengan Ben Parish, cowok kecengan Cassie di sekolah. Bukan cuma itu, ada juga adegan peperangan yang berangkat ke lokasinya harus naik helikopter, tapi pulangnya cukup naik mobil dengan waktu tempuh yang kurang lebih sama. Padahal masih belum terjawab gimana caranya mobil mendadak bisa jalan setelah serangan elektro magnet. 
Begitulah, cerita film ini makin lama makin maksa dan absurd, dan entah kenapa kayaknya ingin banget memaksakan momen-momen percintaan dengan dialog berbunga-bunga yang rasanya ganggu banget di tengah tema penyerbuan alien. Seolah-olah penulis ceritanya keasikan bikin problem yang makin lama makin pelik, lalu tiba-tiba sadar durasi udah mepet dan main hajar bikin solusi yang gampangan aja. Film ini diangkat dari buku berjudul sama, dan bukunya ada sequelnya. Yang jelas kalo sequelnya diangkat ke layar lebar juga, gue mah ogah nonton. 

0 komentar:

Post a Comment

 
Back to top!