Review: Forgotten (2017), Ruwetnya Hidup Kalo Ingatan Nggak Bisa Diandalkan



Kalo kalian suka film yang awalnya nampak biasa-biasa aja, seolah bersenandung "la... la... la...", matahari bersinar, angin berhembus sepoi-sepoi, kupu-kupu beterbangan, tapi lama kelamaan makin gelap, tegang, mencekam, hujan geledek, pintu berderit, bayangan gelap melintas, kaca pecah berhamburan, dan dalam proses tersebut kalian terus dibikin bertanya-tanya "Apa yang sebenarnya terjadi? Dia ini siapa? Kenapa kok gini? Loh kok?" nah, film Forgotten ini PAS BANGET buat kalian. 

Ceritanya tentang seorang pemuda bernama Jin-Seok yang punya kakak laki-laki dengan usia nggak terpaut terlalu jauh bernama Yoo-Seok*. Berdasarkan narasi Jin-Seok, dikisahkan sang kakak ini adalah figur pemuda idaman, pintar, sopan, lemah lembut, nggak pernah ngerokok apa lagi narkoba. Sedangkan Jin Seok menilai dirinya sebagai figur yang jauh di bawah kualitas sang kakak, apalagi karena Jin Seok menderita sebuah kondisi mental yang membuat dia suka berhalusinasi kalau kelewatan minum obat. 

Suatu hari, Jin-Seok, Yoo-Seok, serta kedua orang tuanya pindahan ke rumah baru. Dari penampakan awal memang nih rumah jenis rumah yang hanya mungkin terbeli kalo lagi ada program buy one get one: rada gelap-gelap aneh bikin kurang enak badan gitu. Ditambah lagi dengan ada sebuah kamar yang oleh pemilik lamanya diwanti-wanti untuk jangan dibuka, karena masih penuh dengan barang-barang pemilik lamanya. Nanti bangsa sebulanan lagi koper-koper itu akan diambil, gitu katanya. Tapi tentunya kalian sebagai penonton yang cerdas dan mudah penasaran tau banget bahwa ruangan itu isinya bukan koper, ya kaaan, ya kaaan? 

"Asik ye Bang, kita ujan-ujanan..."

Di suatu malam yang berhujan geledek, kakak beradik Jin-Seok dan Yoo-Seok kayak kurang kegiatan yang lebih menarik berdiri di halaman, sambil payungan, "menikmati suasana". Lalu si kakak Yoo-Seok permisi sebentar, katanya dipanggil ayah di rumah. Eh nggak sampe 5 menit kemudian Jin-Seok mendapati kakaknya lagi dikeroyok sekelompok orang di jalanan depan rumah, lalu diberangus dan dibawa pergi naik mobil van!   

Jin-Seok dan keluarganya tentu aja lapor polisi, tapi polisi nggak berhasil menemukan jejak sang kakak. Informasi plat nomor mobil penculik yang dengan susah payah diingat-ingat oleh Jin-Seok malah diragukan oleh polisi, karena kondisi mental Jin-Seok yang suka berhalusinasi itu. Jalan cerita film ini jadi makin ajaib ketika setelah 19 hari menghilang, Yoo-Seok pulang lagi dalam keadaan sehat wal afiat nggak kurang suatu apa, tapi mengalami amnesia. Dia nggak bisa ingat apa yang terjadi selama diculik, siapa penculiknya, dibawa ke mana, dan sebagainya. 

Nah, udah deh. Sejak titik ini, silakan dibuat tercengang-cengang menyaksikan perkembangan plot film. Ke mana Yoo-Seok menghilang selama 19 hari? Kenapa setelah dia pulang malah makin banyak kejadian aneh di rumah itu? Mana ingatan Jin-Seok yang benar-benar terjadi, dan mana yang cuma halusinasi? 

Kalo ketemu film model gini biasanya ada 2 jenis penonton: 
  1. Berusaha keras mendahului jalannnya film dengan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya
  2. Pasrah membiarkan diri diombang-ambingkan jalannya plot yang makin lama makin penuh teka-teki
Gue sih, untungnya, memilih jadi yang nomer 2 karena plot film ini sangat berlapis. Di titik di mana elu mulai berpikir, "Oh ternyata gitu kejadiannya," maka di titik itu pulalah elu akan kecele, lagi, dan lagi, dan lagi. Cape kan kalo digituin terus. Itulah sebabnya, film ini gue nobatkan sebagai film jenis FDEA yaitu Film Dengan Ending Anjrit, karena kemungkinan besar itulah yang akan elu ucapkan saat tiba di akhir film, "Anjriiiit!"

Yang jelas di era pandemi Covid-19 ini, mengerahkan kapasitas mental untuk menebak ke mana arah cerita film akan berbelok lumayan menyenangkan daripada mikirin kapan bisa jalan-jalan ke mall lagi. Seru, seram, mendebarkan. Sangat gue rekomendasikan! 

Film ini bisa ditonton di Netflix. 



*sekilat info, pengakuan dosa, informasi nama-nama tokoh dalam film ini gue dapatkan dari halaman Wikipedia film Forgotten karena selama nonton ngebedain wajah-wajah pemainnya aja udah repot apalagi ngapalin namanya, plus sepanjang film si Yoo-Seok dipanggil sebagai 'hyeong' (kakak laki-laki) jadi ya maap harap maklum kalo gue susah nangkep namanya. 

Komentar

Postingan Populer