Searching...
Monday, March 2, 2015

Pameran "Life on The Silver Screen: The Fascinating Story of Indian Cinema"


Buat para penggemar sejarah film, khususnya film India, pameran ini pasti menarik buat kalian. Berlokasi di mal Lotte Shopping Avenue lantai 1F, Jl. Dr Satrio (Kasablanka) Jakarta Selatan, pameran ini menceritakan sejarah perkembangan seni pertunjukan di India, sejak zaman wayang sampai perfilman modern.



Wayang ala India, bentuk awal seni tontonan di India. 
Konon perfilman India bisa maju karena rakyatnya sangat gemar pada seni pertunjukan, mulai dari wayang tradisional. Tapi... rakyat Indonesia juga demen kok sama seni pertunjukan, kenapa perfilmannya masih begini-begini aja ya? Sekedar info, setiap tahunnya industri perfilman India bisa memproduksi 1.000-an film. Kalo kita bicara peluang, misalnya cuma ada 10% aja dari 1.000 film itu yang bagus, maka ada 100-an film yang bisa dinikmati, alias seminggu bisa nonton 2x. Bandingin dengan produksi film Indonesia yang rata-rata cuma 10 judul per bulan, atau 120 judul per tahun (tahun 2014). Kalo cuma 10% yang bagus, ya cuma 12 judul yang bisa ditonton. Kurang banget. 

Di pameran yang didanai Pusat Kebudayaan India ini juga ada beberapa replika peralatan kuno yang mengawali prinsip animasi gambar. Mungkin waktu benda-benda ini pertama kali dirilis, orang-orang zaman dulu sama takjubnya seperti orang-orang zaman sekarang pertama kali nonton bioskop 3D.




Kedua alat ini bisa menampilkan ilusi gambar
bergerak kalo kita ngintip dari celah-celahnya. 


Ini mungkin mendekati prinsip proyektor zaman sekarang,
tapi cuma bisa menayangkan slide, belum gambar bergerak.


Kalo kita ngintip ke dalam alat ini, di dalamnya ada 'film'
cewek joget yang bergerak dengan tenaga putaran engkol.
Sedih banget ya hiburan orang zaman dulu...



Di balik gambar sangkar ini ada gambar burung. Kalo lempengannya
diputar cukup cepat, seolah-olah burungnya masuk sangkar.
Udah, gitu doang. 

Juga ada satu bagian tersendiri yang membahas 'Devdas', sebuah novel yang pertama kali terbit tahun 1917 dan entah kenapa ceritanya menarik banget bagi orang-orang India sampe mereka berulang kali mengadaptasinya ke layar film. Film Devdas pertama dibuat tahun 1928, dan hingga tahun 2013 masih ada film terbarunya. 


Pameran ini akan berlangsung sampe tanggal 20 Maret 2015. Buat yang punya penyakit sama dengan gue, suka mendadak pusing kalo disuruh baca uraian berbahasa Inggris, jangan khawatir, pameran ini dijaga beberapa mbak-mbak yang akan membantu menjelaskan isi panel-panelnya kepada pengunjung.

2 komentar:

  1. duuuhhh kalo masih di jakarta pasti mampir ke sini :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penggemar film India ya? Komplit loh informasinya. Berita bagusnya, pameran ini bergerak keliling dunia, mungkin suatu hari akan mampir juga ke sana.

      Delete

 
Back to top!